Angginiez’s Weblog

April 7, 2008

Penyebab Pemanasan Global

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — angginiez @ 9:08 am

Efek rumah kaca

Segala sumber energi yang terdapat di Bumi berasal dari Matahari. Sebagian besar energi tersebut dalam bentuk radiasi gelombang pendek, termasuk cahaya tampak. Ketika energi ini mengenai permukaan Bumi, ia berubah dari cahaya menjadi panas yang menghangatkan Bumi. Permukaan Bumi, akan menyerap sebagian panas dan memantulkan kembali sisanya. Sebagian dari panas ini sebagai radiasi infra merah gelombang panjang ke angkasa luar. Namun sebagian panas tetap terperangkap di atmosfer bumi akibat menumpuknya jumlah gas rumah kaca antara lain uap air, karbondioksida, dan metana yang menjadi perangkap gelombang radiasi ini. Gas-gas ini menyerap dan memantulkan kembali radiasi gelombang yang dipancarkan Bumi dan akibatnya panas tersebut akan tersimpan di permukaan Bumi. Hal tersebut terjadi berulang-ulang dan mengakibatkan suhu rata-rata tahunan bumi terus meningkat.

Gas-gas tersebut berfungsi sebagaimana kaca dalam rumah kaca. Dengan semakin meningkatnya konsentrasi gas-gas ini di atmosfer, semakin banyak panas yang terperangkap di bawahnya.

Sebenarnya, efek rumah kaca ini sangat dibutuhkan oleh segala makhluk hidup yang ada di bumi, karena tanpanya, planet ini akan menjadi sangat dingin. Dengan temperatur rata-rata sebesar 15 °C (59 °F), bumi sebenarnya telah lebih panas 33 °C (59 °F) dengan efek rumah kaca (tanpanya suhu bumi hanya -18 °C sehingga es akan menutupi seluruh permukaan Bumi). Akan tetapi sebaliknya, akibat jumlah gas-gas tersebut telah berlebih di atmosfer, pemanasan global menjadi akibatnya.

Efek umpan balik

Efek-efek dari agen penyebab pemanasan global juga dipengaruhi oleh berbagai proses umpan balik yang dihasilkannya. Sebagai contoh adalah pada penguapan air. Pada kasus pemanasan akibat bertambahnya gas-gas rumah kaca seperti CO2, pemanasan pada awalnya akan menyebabkan lebih banyaknya air yang menguap ke atmosfer. Karena uap air sendiri merupakan gas rumah kaca, pemanasan akan terus berlanjut dan menambah jumlah uap air di udara hingga tercapainya suatu kesetimbangan konsentrasi uap air. Efek rumah kaca yang dihasilkannya lebih besar bila dibandingkan oleh akibat gas CO2 sendiri. (Walaupun umpan balik ini meningkatkan kandungan air absolut di udara, kelembaban relatif udara hampir konstan atau bahkan agak menurun karena udara menjadi menghangat). Umpan balik ini hanya dapat dibalikkan secara perlahan-lahan karena CO2 memiliki usia yang panjang di atmosfer.

Efek-efek umpan balik karena pengaruh awan sedang menjadi objek penelitian saat ini. Bila dilihat dari bawah, awan akan memantulkan radiasi infra merah balik ke permukaan, sehingga akan meningkatkan efek pemanasan. Sebaliknya bila dilihat dari atas, awan tersebut akan memantulkan sinar Matahari dan radiasi infra merah ke angkasa, sehingga meningkatkan efek pendinginan. Apakah efek netto-nya pemanasan atau pendinginan tergantung pada beberapa detail-detail tertentu seperti tipe dan ketinggian awan tersebut. Detail-detail ini sulit direpresentasikan dalam model iklim, antara lain karena awan sangat kecil bila dibandingkan dengan jarak antara batas-batas komputasional dalam model iklim (sekitar 125 hingga 500 km untuk model yang digunakan dalam Laporan Pandangan IPCC ke Empat). Walaupun demikian, umpan balik awan berada pada peringkat dua bila dibandingkan dengan umpan balik uap air dan dianggap positif (menambah pemanasan) dalam semua model yang digunakan dalam Laporan Pandangan IPCC ke Empat.[4]

Umpan balik penting lainnya adalah hilangnya kemampuan memantulkan cahaya (albedo) oleh es.Ketika temperatur global meningkat, es yang berada di dekat kutub mencair dengan kecepatan yang terus meningkat. Bersama dengan melelehnya es tersebut, daratan atau air dibawahnya akan terbuka. Baik daratan maupun air memiliki kemampuan memantulkan cahaya lebih sedikit bila dibandingkan dengan es, dan akibatnya akan menyerap lebih banyak radiasi Matahari. Hal ini akan menambah pemanasan dan menimbulkan lebih banyak lagi es yang mencair, menjadi suatu siklus yang berkelanjutan.

Umpan balik positif akibat terlepasnya CO2 dan CH4 dari melunaknya tanah beku (permafrost) adalah mekanisme lainnya yang berkontribusi terhadap pemanasan. Selain itu, es yang meleleh juga akan melepas CH4 yang juga menimbulkan umpan balik positif.

Kemampuan lautan untuk menyerap karbon juga akan berkurang bila ia menghangat, hal ini diakibatkan oleh menurunya tingkat nutrien pada zona mesopelagic sehingga membatasi pertumbuhan diatom daripada fitoplankton yang merupakan penyerap karbon yang rendah.

Variasi Matahari

Variasi Matahari selama 30 tahun terakhir.

Variasi Matahari selama 30 tahun terakhir.

Variasi Matahari

Terdapat hipotesa yang menyatakan bahwa variasi dari Matahari, dengan kemungkinan diperkuat oleh umpan balik dari awan, dapat memberi kontribusi dalam pemanasan saat ini.Perbedaan antara mekanisme ini dengan pemanasan akibat efek rumah kaca adalah meningkatnya aktivitas Matahari akan memanaskan stratosfer sebaliknya efek rumah kaca akan mendinginkan stratosfer. Pendinginan stratosfer bagian bawah paling tidak telah diamati sejak tahun 1960,yang tidak akan terjadi bila aktivitas Matahari menjadi kontributor utama pemanasan saat ini. (Penipisan lapisan ozon juga dapat memberikan efek pendinginan tersebut tetapi penipisan tersebut terjadi mulai akhir tahun 1970-an.) Fenomena variasi Matahari dikombinasikan dengan aktivitas gunung berapi mungkin telah memberikan efek pemanasan dari masa pra-industri hingga tahun 1950, serta efek pendinginan sejak tahun 1950.

Ada beberapa hasil penelitian yang menyatakan bahwa kontribusi Matahari mungkin telah diabaikan dalam pemanasan global. Dua ilmuan dari Duke University mengestimasikan bahwa Matahari mungkin telah berkontribusi terhadap 45-50% peningkatan temperatur rata-rata global selama periode 1900-2000, dan sekitar 25-35% antara tahun 1980 dan 2000.Stott dan rekannya mengemukakan bahwa model iklim yang dijadikan pedoman saat ini membuat estimasi berlebihan terhadap efek gas-gas rumah kaca dibandingkan dengan pengaruh Matahari; mereka juga mengemukakan bahwa efek pendinginan dari debu vulkanik dan aerosol sulfat juga telah dipandang remeh.Walaupun demikian, mereka menyimpulkan bahwa bahkan dengan meningkatkan sensitivitas iklim terhadap pengaruh Matahari sekalipun, sebagian besar pemanasan yang terjadi pada dekade-dekade terakhir ini disebabkan oleh gas-gas rumah kaca.

Pada tahun 2006, sebuah tim ilmuan dari Amerika Serikat, Jerman dan Swiss menyatakan bahwa mereka tidak menemukan adanya peningkatan tingkat “keterangan” dari Matahari pada seribu tahun terakhir ini. Siklus Matahari hanya memberi peningkatan kecil sekitar 0,07% dalam tingkat “keterangannya” selama 30 tahun terakhir. Efek ini terlalu kecil untuk berkontribusi terhadap pemansan global.Sebuah penelitian oleh Lockwood dan Fröhlich menemukan bahwa tidak ada hubungan antara pemanasan global dengan variasi Matahari sejak tahun 1985, baik melalui variasi dari output Matahari maupun variasi dalam sinar kosmis.

Mengukur pemanasan globa

Pada awal 1896, para ilmuan beranggapan bahwa membakar bahan bakar fosil akan mengubah komposisi atmosfer dan dapat meningkatkan temperatur rata-rata global. Hipotesis ini dikonfirmasi tahun 1957 ketika para peneliti yang bekerja pada program penelitian global yaitu International Geophysical Year, mengambil sampel atmosfer dari puncak gunung Mauna Loa di Hawai. Hasil pengukurannya menunjukkan terjadi peningkatan konsentrasi karbondioksida di atmosfer. Setelah itu, komposisi dari atmosfer terus diukur dengan cermat. Data-data yang dikumpulkan menunjukkan bahwa memang terjadi peningkatan konsentrasi dari gas-gas rumah kaca di atmosfer.

Para ilmuan juga telah lama menduga bahwa iklim global semakin menghangat, tetapi mereka tidak mampu memberikan bukti-bukti yang tepat. Temperatur terus bervariasi dari waktu ke waktu dan dari lokasi yang satu ke lokasi lainnya. Perlu bertahun-tahun pengamatan iklim untuk memperoleh data-data yang menunjukkan suatu kecenderungan (trend) yang jelas. Catatan pada akhir 1980-an agak memperlihatkan kecenderungan penghangatan ini, akan tetapi data statistik ini hanya sedikit dan tidak dapat dipercaya. Stasiun cuaca pada awalnya, terletak dekat dengan daerah perkotaan sehingga pengukuran temperatur akan dipengaruhi oleh panas yang dipancarkan oleh bangunan dan kendaraan dan juga panas yang disimpan oleh material bangunan dan jalan. Sejak 1957, data-data diperoleh dari stasiun cuaca yang terpercaya (terletak jauh dari perkotaan), serta dari satelit. Data-data ini memberikan pengukuran yang lebih akurat, terutama pada 70 persen permukaan planet yang tertutup lautan. Data-data yang lebih akurat ini menunjukkan bahwa kecenderungan menghangatnya permukaan Bumi benar-benar terjadi. Jika dilihat pada akhir abad ke-20, tercatat bahwa sepuluh tahun terhangat selama seratus tahun terakhir terjadi setelah tahun 1980, dan tiga tahun terpanas terjadi setelah tahun 1990, dengan 1998 menjadi yang paling panas.

Dalam laporan yang dikeluarkannya tahun 2001, Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menyimpulkan bahwa temperatur udara global telah meningkat 0,6 derajat Celsius (1 derajat Fahrenheit) sejak 1861. Panel setuju bahwa pemanasan tersebut terutama disebabkan oleh aktifitas manusia yang menambah gas-gas rumah kaca ke atmosfer. IPCC memprediksi peningkatan temperatur rata-rata global akan meningkat 1.1 hingga 6.4 °C (2.0 hingga 11.5 °F) antara tahun 1990 dan 2100.

IPCC panel juga memperingatkan, bahwa meskipun konsentrasi gas di atmosfer tidak bertambah lagi sejak tahun 2100, iklim tetap terus menghangat selama periode tertentu akibat emisi yang telah dilepaskan sebelumnya. Karbondioksida akan tetap berada di atmosfer selama seratus tahun atau lebih sebelum alam mampu menyerapnya kembali. Jika emisi gas rumah kaca terus meningkat, para ahli memprediksi, konsentrasi karbondioksioda di atmosfer dapat meningkat hingga tiga kali lipat pada awal abad ke-22 bila dibandingkan masa sebelum era industri. Akibatnya, akan terjadi perubahan iklim secara dramatis. Walaupun sebenarnya peristiwa perubahan iklim ini telah terjadi beberapa kali sepanjang sejarah Bumi, manusia akan menghadapi masalah ini dengan resiko populasi yang sangat besar.

Model iklim

Prakiraan peningkatan temperature terhadap beberapa skenario kestabilan (pita berwarna) berdasarkan Laporan Pandangan IPCC ke Empat. Garis hitam menunjukkan prakiraan terbaik; garis merah dan biru menunjukkan batas-batas kemungkinan yang dapat terjadi.

Prakiraan peningkatan temperature terhadap beberapa skenario kestabilan (pita berwarna) berdasarkan Laporan Pandangan IPCC ke Empat. Garis hitam menunjukkan prakiraan terbaik; garis merah dan biru menunjukkan batas-batas kemungkinan yang dapat terjadi.

Perhitungan pemanasan global pada tahun 2001 dari beberapa model iklim berdasarkan scenario SRES A2, yang mengasumsikan tidak ada tindakan yang dilakukan untuk mengurangi emisi.

Perhitungan pemanasan global pada tahun 2001 dari beberapa model iklim berdasarkan scenario SRES A2, yang mengasumsikan tidak ada tindakan yang dilakukan untuk mengurangi emisi.

Model iklim global

Para ilmuan telah mempelajari pemanasan global berdasarkan model-model computer berdasarkan prinsip-prinsip dasar dinamikan fluida, transfer radiasi, dan proses-proses lainya, dengan beberapa penyederhanaan disebabkan keterbatasan kemampuan komputer. Model-model ini memprediksikan bahwa penambahan gas-gas rumah kaca berefek pada iklim yang lebih hangat.[16] Walaupun digunakan asumsi-asumsi yang sama terhadap konsentrasi gas rumah kaca di masa depan, sensitivitas iklimnya masih akan berada pada suatu rentang tertentu.

Dengan memasukkan unsur-unsur ketidakpastian terhadap konsentrasi gas rumah kaca dan pemodelan iklim, IPCC memperkirakan pemanasan sekitar 1.1 °C hingga 6.4 °C (2.0 °F hingga 11.5 °F) antara tahun 1990 dan 2100.Model-model iklim juga digunakan untuk menyelidiki penyebab-penyebab perubahan iklim yang terjadi saat ini dengan membandingkan perubahan yang teramati dengan hasil prediksi model terhadap berbagai penyebab, baik alami maupun aktivitas manusia.

Model iklim saat ini menghasilkan kemiripan yang cukup baik dengan perubahan temperature global hasil pengamatan selama seratus tahun terakhir, tetapi tidak mensimulasi semua aspek dari iklim. Model-model ini tidak secara pasti menyatakan bahwa pemanasan yang terjadi antara tahun 1910 hingga 1945 disebabkan oleh proses alami atau aktivitas manusia; akan tetapi; mereka menunjukkan bahwa pemanasan sejak tahun 1975 didominasi oleh emisi gas-gas yang dihasilkan manusia.

Sebagian besar model-model iklim, ketika menghitung iklim di masa depan, dilakukan berdasarkan skenario-skenario gas rumah kaca, biasanya dari Laporan Khusus terhadap Skenario Emisi (Special Report on Emissions Scenarios / SRES) IPCC. Yang jarang dilakukan, model menghitung dengan menambahkan simulasi terhadap siklus karbon; yang biasanya menghasilkan umpan balik yang positif, walaupun responnya masih belum pasti (untuk skenario A2 SRES, respon bervariasi antara penambahan 20 dan 200 ppm CO2). Beberapa studi-studi juga menunjukkan beberapa umpan balik positif.

Pengaruh awan juga merupakan salah satu sumber yang menimbulkan ketidakpastian terhadap model-model yang dihasilkan saat ini, walaupun sekarang telah ada kemajuan dalam menyelesaikan masalah ini. Saat ini juga terjadi diskusi-diskusi yang masih berlanjut mengenai apakah model-model iklim mengesampingkan efek-efek umpan balik dan tak langsung dari variasi Matahari.

Dampak pemanasan global

Para ilmuan menggunakan model komputer dari temperatur, pola presipitasi, dan sirkulasi atmosfer untuk mempelajari pemanasan global. Berdasarkan model tersebut, para ilmuan telah membuat beberapa prakiraan mengenai dampak pemanasan global terhadap cuaca, tinggi permukaan air laut, pantai, pertanian, kehidupan hewan liar dan kesehatan manusia.

 Cuaca

Para ilmuan memperkirakan bahwa selama pemanasan global, daerah bagian Utara dari belahan Bumi Utara (Northern Hemisphere) akan memanas lebih dari daerah-daerah lain di Bumi. Akibatnya, gunung-gunung es akan mencair dan daratan akan mengecil. Akan lebih sedikit es yang terapung di perairan Utara tersebut. Daerah-daerah yang sebelumnya mengalami salju ringan, mungkin tidak akan mengalaminya lagi. Pada pegunungan di daerah subtropis, bagian yang ditutupi salju akan semakin sedikit serta akan lebih cepat mencair. Musim tanam akan lebih panjang di beberapa area. Temperatur pada musim dingin dan malam hari akan cenderung untuk meningkat.

Daerah hangat akan menjadi lebih lembab karena lebih banyak air yang menguap dari lautan. Para ilmuan belum begitu yakin apakah kelembaban tersebut malah akan meningkatkan atau menurunkan pemanasan yang lebih jauh lagi. Hal ini disebabkan karena uap air merupakan gas rumah kaca, sehingga keberadaannya akan meningkatkan efek insulasi pada atmosfer. Akan tetapi, uap air yang lebih banyak juga akan membentuk awan yang lebih banyak, sehingga akan memantulkan cahaya matahari kembali ke angkasa luar, di mana hal ini akan menurunkan proses pemanasan (lihat siklus air). Kelembaban yang tinggi akan meningkatkan curah hujan, secara rata-rata, sekitar 1 persen untuk setiap derajat Fahrenheit pemanasan. (Curah hujan di seluruh dunia telah meningkat sebesar 1 persen dalam seratus tahun terakhir ini). Badai akan menjadi lebih sering. Selain itu, air akan lebih cepat menguap dari tanah. Akibatnya beberapa daerah akan menjadi lebih kering dari sebelumnya. Angin akan bertiup lebih kencang dan mungkin dengan pola yang berbeda. Topan badai (hurricane) yang memperoleh kekuatannya dari penguapan air, akan menjadi lebih besar. Berlawanan dengan pemanasan yang terjadi, beberapa periode yang sangat dingin mungkin akan terjadi. Pola cuaca menjadi tidak terprediksi dan lebih ekstrim.

Tinggi muka laut

Kenaikan permukaan laut

Perubahan tinggi rata-rata muka laut diukur dari daerah dengan lingkungan yang stabil secara geologi.

Perubahan tinggi rata-rata muka laut diukur dari daerah dengan lingkungan yang stabil secara geologi.

Ketika atmosfer menghangat, lapisan permukaan lautan juga akan menghangat, sehingga volumenya akan membesar dan menaikkan tinggi permukaan laut. Pemanasan juga akan mencairkan banyak es di kutub, terutama sekitar Greenland, yang lebih memperbanyak volume air di laut. Tinggi muka laut di seluruh dunia telah meningkat 10 – 25 cm (4 – 10 inchi) selama abad ke-20, dan para ilmuan IPCC memprediksi peningkatan lebih lanjut 9 – 88 cm (4 – 35 inchi) pada abad ke-21.

Perubahan tinggi muka laut akan sangat mempengaruhi kehidupan di daerah pantai. Kenaikan 100 cm (40 inchi) akan menenggelamkan 6 persen daerah Belanda, 17,5 persen daerah Bangladesh, dan banyak pulau-pulau. Erosi dari tebing, pantai, dan bukit pasir akan meningkat. Ketika tinggi lautan mencapai muara sungai, banjir akibat air pasang akan meningkat di daratan. Negara-negara kaya akan menghabiskan dana yang sangat besar untuk melindungi daerah pantainya, sedangkan negara-negara miskin mungkin hanya dapat melakukan evakuasi dari daerah pantai.

Bahkan sedikit kenaikan tinggi muka laut akan sangat mempengaruhi ekosistem pantai. Kenaikan 50 cm (20 inchi) akan menenggelamkan separuh dari rawa-rawa pantai di Amerika Serikat. Rawa-rawa baru juga akan terbentuk, tetapi tidak di area perkotaan dan daerah yang sudah dibangun. Kenaikan muka laut ini akan menutupi sebagian besar dari Florida Everglades.

Pertanian

Orang mungkin beranggapan bahwa Bumi yang hangat akan menghasilkan lebih banyak makanan dari sebelumnya, tetapi hal ini sebenarnya tidak sama di beberapa tempat. Bagian Selatan Kanada, sebagai contoh, mungkin akan mendapat keuntungan dari lebih tingginya curah hujan dan lebih lamanya masa tanam. Di lain pihak, lahan pertanian tropis semi kering di beberapa bagian Afrika mungkin tidak dapat tumbuh. Daerah pertanian gurun yang menggunakan air irigasi dari gunung-gunung yang jauh dapat menderita jika snowpack (kumpulan salju) musim dingin, yang berfungsi sebagai reservoir alami, akan mencair sebelum puncak bulan-bulan masa tanam. Tanaman pangan dan hutan dapat mengalami serangan serangga dan penyakit yang lebih hebat.

 Hewan dan tumbuhan

Hewan dan tumbuhan menjadi makhluk hidup yang sulit menghindar dari efek pemanasan ini karena sebagian besar lahan telah dikuasai manusia. Dalam pemanasan global, hewan cenderung untuk bermigrasi ke arah kutub atau ke atas pegunungan. Tumbuhan akan mengubah arah pertumbuhannya, mencari daerah baru karena habitat lamanya menjadi terlalu hangat. Akan tetapi, pembangunan manusia akan menghalangi perpindahan ini. Spesies-spesies yang bermigrasi ke utara atau selatan yang terhalangi oleh kota-kota atau lahan-lahan pertanian mungkin akan mati. Beberapa tipe spesies yang tidak mampu secara cepat berpindah menuju kutub mungkin juga akan musnah.

Kesehatan manusia

Di dunia yang hangat, para ilmuan memprediksi bahwa lebih banyak orang yang terkena penyakit atau meninggal karena stress panas. Wabah penyakit yang biasa ditemukan di daerah tropis, seperti penyakit yang diakibatkan nyamuk dan hewan pembawa penyakit lainnya, akan semakin meluas karena mereka dapat berpindah ke daerah yang sebelumnya terlalu dingin bagi mereka. Saat ini, 45 persen penduduk dunia tinggal di daerah di mana mereka dapat tergigit oleh nyamuk pembawa parasit malaria; persentase itu akan meningkat menjadi 60 persen jika temperature meningkat. Penyakit-penyakit tropis lainnya juga dapat menyebar seperti malaria, seperti demam dengue, demam kuning, dan encephalitis. Para ilmuan juga memprediksi meningkatnya insiden alergi dan penyakit pernafasan karena udara yang lebih hangat akan memperbanyak polutan, spora mold dan serbuk sari.

Perdebatan tentang pemanasan global

Tidak semua ilmuan setuju tentang keadaan dan akibat dari pemanasan global. Beberapa pengamat masih mempertanyakan apakah temperatur benar-benar meningkat. Yang lainnya mengakui perubahan yang telah terjadi tetapi tetap membantah bahwa masih terlalu dini untuk membuat prediksi tentang keadaan di masa depan. Kritikan seperti ini juga dapat membantah bukti-bukti yang menunjukkan kontribusi manusia terhadap pemanasan global dengan berargumen bahwa siklus alami dapat juga meningkatkan temperatur. Mereka juga menunjukkan fakta-fakta bahwa pemanasan berkelanjutan dapat menguntungkan di beberapa daerah.

Para ilmuan yang mempertanyakan pemanasan global cenderung menunjukkan tiga perbedaan yang masih dipertanyakan antara prediksi model pemanasan global dengan perilaku sebenarnya yang terjadi pada iklim. Pertama, pemanasan cenderung berhenti selama tiga dekade pada pertengahan abad ke-20; bahkan ada masa pendinginan sebelum naik kembali pada tahun 1970-an. Kedua, jumlah total pemanasan selama abad ke-20 hanya separuh dari yang diprediksi oleh model. Ketiga, troposfer, lapisan atmosfer terendah, tidak memanas secepat prediksi model. Akan tetapi, pendukung adanya pemanasan global yakin dapat menjawab dua dari tiga pertanyaan tersebut.

Kurangnya pemanasan pada pertengahan abad disebabkan oleh besarnya polusi udara yang menyebarkan partikulat-partikulat, terutama sulfat, ke atmosfer. Partikulat ini, juga dikenal sebagai aerosol, memantulkan sebagian sinar matahari kembali ke angkasa luar. Pemanasan berkelanjutan akhirnya mengatasi efek ini, sebagian lagi karena adanya kontrol terhadap polusi yang menyebabkan udara menjadi lebih bersih.

Keadaan pemanasan global sejak 1900 yang ternyata tidak seperti yang diprediksi disebabkan penyerapan panas secara besar oleh lautan. Para ilmuan telah lama memprediksi hal ini tetapi tidak memiliki cukup data untuk membuktikannya. Pada tahun 2000, U.S. National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) memberikan hasil analisa baru tentang temperatur air yang diukur oleh para pengamat di seluruh dunia selama 50 tahun terakhir. Hasil pengukuran tersebut memperlihatkan adanya kecenderungan pemanasan: temperatur laut dunia pada tahun 1998 lebih tinggi 0,2 derajat Celsius (0,3 derajat Fahrenheit) daripada temperatur rata-rata 50 tahun terakhir, ada sedikit perubahan tetapi cukup berarti.

Pertanyaan ketiga masih membingungkan. Satelit mendeteksi lebih sedikit pemanasan di troposfer dibandingkan prediksi model. Menurut beberapa kritikus, pembacaan atmosfer tersebut benar, sedangkan pengukuran atmosfer dari permukaan Bumi tidak dapat dipercaya. Pada bulan Januari 2000, sebuah panel yang ditunjuk oleh National Academy of Sciences untuk membahas masalah ini mengakui bahwa pemanasan permukaan Bumi tidak dapat diragukan lagi. Akan tetapi, pengukuran troposfer yang lebih rendah dari prediksi model tidak dapat dijelaskan secara jelas.

Pengendalian pemanasan global

Konsumsi total bahan bakar fosil di dunia meningkat sebesar 1 persen per-tahun. Langkah-langkah yang dilakukan atau yang sedang diskusikan saat ini tidak ada yang dapat mencegah pemanasan global di masa depan. Tantangan yang ada saat ini adalah mengatasi efek yang timbul sambil melakukan langkah-langkah untuk mencegah semakin berubahnya iklim di masa depan.

Kerusakan yang parah dapat diatasi dengan berbagai cara. Daerah pantai dapat dilindungi dengan dinding dan penghalang untuk mencegah masuknya air laut. Cara lainnya, pemerintah dapat membantu populasi di pantai untuk pindah ke daerah yang lebih tinggi. Beberapa negara, seperti Amerika Serikat, dapat menyelamatkan tumbuhan dan hewan dengan tetap menjaga koridor (jalur) habitatnya, mengosongkan tanah yang belum dibangun dari selatan ke utara. Spesies-spesies dapat secara perlahan-lahan berpindah sepanjang koridor ini untuk menuju ke habitat yang lebih dingin.

Ada dua pendekatan utama untuk memperlambat semakin bertambahnya gas rumah kaca. Pertama, mencegah karbon dioksida dilepas ke atmosfer dengan menyimpan gas tersebut atau komponen karbon-nya di tempat lain. Cara ini disebut carbon sequestration (menghilangkan karbon). Kedua, mengurangi produksi gas rumah kaca.Menghilangkan karbon

Cara yang paling mudah untuk menghilangkan karbondioksida di udara adalah dengan memelihara pepohonan dan menanam pohon lebih banyak lagi. Pohon, terutama yang muda dan cepat pertumbuhannya, menyerap karbondioksida yang sangat banyak, memecahnya melalui fotosintesis, dan menyimpan karbon dalam kayunya. Di seluruh dunia, tingkat perambahan hutan telah mencapai level yang mengkhawatirkan. Di banyak area, tanaman yang tumbuh kembali sedikit sekali karena tanah kehilangan kesuburannya ketika diubah untuk kegunaan yang lain, seperti untuk lahan pertanian atau pembangunan rumah tinggal. Langkah untuk mengatasi hal ini adalah dengan penghutanan kembali yang berperan dalam mengurangi semakin bertambahnya gas rumah kaca.

Gas karbondioksida juga dapat dihilangkan secara langsung. Caranya dengan menyuntikkan (menginjeksikan) gas tersebut ke sumur-sumur minyak untuk mendorong agar minyak bumi keluar ke permukaan (lihat Enhanced Oil Recovery). Injeksi juga bisa dilakukan untuk mengisolasi gas ini di bawah tanah seperti dalam sumur minyak, lapisan batubara atau aquifer. Hal ini telah dilakukan di salah satu anjungan pengeboran lepas pantai Norwegia, di mana karbondioksida yang terbawa ke permukaan bersama gas alam ditangkap dan diinjeksikan kembali ke aquifer sehingga tidak dapat kembali ke permukaan.

Salah satu sumber penyumbang karbondioksida adalah pembakaran bahan bakar fosil. Penggunaan bahan bakar fosil mulai meningkat pesat sejak revolusi industri pada abad ke-18. Pada saat itu, batubara menjadi sumber energi dominan untuk kemudian digantikan oleh minyak bumi pada pertengahan abad ke-19. Pada abad ke-20, energi gas mulai biasa digunakan di dunia sebagai sumber energi. Perubahan tren penggunaan bahan bakar fosil ini sebenarnya secara tidak langsung telah mengurangi jumlah karbondioksida yang dilepas ke udara, karena gas melepaskan karbondioksida lebih sedikit bila dibandingkan dengan minyak apalagi bila dibandingkan dengan batubara. Walaupun demikian, penggunaan energi terbaharui dan energi nuklir lebih mengurangi pelepasan karbondioksida ke udara. Energi nuklir, walaupun kontroversial karena alasan keselamatan dan limbahnya yang berbahaya, bahkan tidak melepas karbondioksida sama sekali.

 Persetujuan internasional

Protokol Kyoto

Kerjasama internasional diperlukan untuk mensukseskan pengurangan gas-gas rumah kaca. Di tahun 1992, pada Earth Summit di Rio de Janeiro, Brazil, 150 negara berikrar untuk menghadapi masalah gas rumah kaca dan setuju untuk menterjemahkan maksud ini dalam suatu perjanjian yang mengikat. Pada tahun 1997 di Jepang, 160 negara merumuskan persetujuan yang lebih kuat yang dikenal dengan Protokol Kyoto.

Perjanjian ini, yang belum diimplementasikan, menyerukan kepada 38 negara-negara industri yang memegang persentase paling besar dalam melepaskan gas-gas rumah kaca untuk memotong emisi mereka ke tingkat 5 persen di bawah emisi tahun 1990. Pengurangan ini harus dapat dicapai paling lambat tahun 2012. Pada mulanya, Amerika Serikat mengajukan diri untuk melakukan pemotongan yang lebih ambisius, menjanjikan pengurangan emisi hingga 7 persen di bawah tingkat 1990; Uni Eropa, yang menginginkan perjanjian yang lebih keras, berkomitmen 8 persen; dan Jepang 6 persen. Sisa 122 negara lainnya, sebagian besar negara berkembang, tidak diminta untuk berkomitmen dalam pengurangan emisi gas.

Akan tetapi, pada tahun 2001, Presiden Amerika Serikat yang baru terpilih, George W. Bush mengumumkan bahwa perjanjian untuk pengurangan karbondioksida tersebut menelan biaya yang sangat besar. Ia juga menyangkal dengan menyatakan bahwa negara-negara berkembang tidak dibebani dengan persyaratan pengurangan karbondioksida ini. Kyoto Protokol tidak berpengaruh apa-apa bila negara-negara industri yang bertanggung jawab menyumbang 55 persen dari emisi gas rumah kaca pada tahun 1990 tidak meratifikasinya. Persyaratan itu berhasil dipenuhi ketika tahun 2004, Presiden Rusia Vladimir Putin meratifikasi perjanjian ini, memberikan jalan untuk berlakunya perjanjian ini mulai 16 Februari 2005.

Banyak orang mengkritik Protokol Kyoto terlalu lemah. Bahkan jika perjanjian ini dilaksanakan segera, ia hanya akan sedikit mengurangi bertambahnya konsentrasi gas-gas rumah kaca di atmosfer. Suatu tindakan yang keras akan diperlukan nanti, terutama karena negara-negara berkembang yang dikecualikan dari perjanjian ini akan menghasilkan separuh dari emisi gas rumah kaca pada 2035. Penentang protokol ini memiliki posisi yang sangat kuat. Penolakan terhadap perjanjian ini di Amerika Serikat terutama dikemukakan oleh industri minyak, industri batubara dan perusahaan-perusahaan lainnya yang produksinya tergantung pada bahan bakar fosil. Para penentang ini mengklaim bahwa biaya ekonomi yang diperlukan untuk melaksanakan Protokol Kyoto dapat menjapai 300 milyar dollar AS, terutama disebabkan oleh biaya energi. Sebaliknya pendukung Protokol Kyoto percaya bahwa biaya yang diperlukan hanya sebesar 88 milyar dollar AS dan dapat lebih kurang lagi serta dikembalikan dalam bentuk penghematan uang setelah mengubah ke peralatan, kendaraan, dan proses industri yang lebih effisien.

Pada suatu negara dengan kebijakan lingkungan yang ketat, ekonominya dapat terus tumbuh walaupun berbagai macam polusi telah dikurangi. Akan tetapi membatasi emisi karbondioksida terbukti sulit dilakukan. Sebagai contoh, Belanda, negara industrialis besar yang juga pelopor lingkungan, telah berhasil mengatasi berbagai macam polusi tetapi gagal untuk memenuhi targetnya dalam mengurangi produksi karbondioksida.

Setelah tahun 1997, para perwakilan dari penandatangan Protokol Kyoto bertemu secara reguler untuk menegoisasikan isu-isu yang belum terselesaikan seperti peraturan, metode dan pinalti yang wajib diterapkan pada setiap negara untuk memperlambat emisi gas rumah kaca. Para negoisator merancang sistem di mana suatu negara yang memiliki program pembersihan yang sukses dapat mengambil keuntungan dengan menjual hak polusi yang tidak digunakan ke negara lain. Sistem ini disebut perdagangan karbon. Sebagai contoh, negara yang sulit meningkatkan lagi hasilnya, seperti Belanda, dapat membeli kredit polusi di pasar, yang dapat diperoleh dengan biaya yang lebih rendah. Rusia, merupakan negara yang memperoleh keuntungan bila sistem ini diterapkan. Pada tahun 1990, ekonomi Rusia sangat payah dan emisi gas rumah kacanya sangat tinggi. Karena kemudian Rusia berhasil memotong emisinya lebih dari 5 persen di bawah tingkat 1990, ia berada dalam posisi untuk menjual kredit emisi ke negara-negara industri lainnya, terutama mereka yang ada di Uni Eropa.

Global Warming

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — angginiez @ 8:54 am
Temperatur rata-rata global 1850 sampai 2006 relatif terhadap 1961–1990

Temperatur rata-rata global 1850 sampai 2006 relatif terhadap 1961–1990

Anomali temperatur permukaan rata-rata selama periode 1995 sampai 2004 dengan dibandingkan pada temperatur rata-rata dari 1940 sampai 1980

Anomali temperatur permukaan rata-rata selama periode 1995 sampai 2004 dengan dibandingkan pada temperatur rata-rata dari 1940 sampai 1980

Pemanasan global adalah adanya proses peningkatan suhu rata-rata atmosfer, laut, dan daratan Bumi.

Suhu rata-rata global pada permukaan Bumi telah meningkat 0.74 ± 0.18 °C (1.33 ± 0.32 °F) selama seratus tahun terakhir. Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menyimpulkan bahwa, “sebagian besar peningkatan temperatur rata-rata global sejak pertengahan abad ke-20 kemungkinan besar disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca akibat aktivitas manusia”[1] melalui efek rumah kaca. Kesimpulan dasar ini telah dikemukakan oleh setidaknya 30 badan ilmiah dan akademik, termasuk semua akademi sains nasional dari negara-negara G8. Akan tetapi, masih terdapat beberapa ilmuwan yang tidak setuju dengan beberapa kesimpulan yang dikemukakan IPCC tersebut.

Model iklim yang dijadikan acuan oleh projek IPCC menunjukkan suhu permukaan global akan meningkat 1.1 hingga 6.4 °C (2.0 hingga 11.5 °F) antara tahun 1990 dan 2100.[1] Perbedaan angka perkiraan itu dikarenakan oleh penggunaan skenario-skenario berbeda mengenai emisi gas-gas rumah kaca di masa mendatang, serta model-model sensitivitas iklim yang berbeda. Walaupun sebagian besar penelitian terfokus pada periode hingga 2100, pemanasan dan kenaikan muka air laut diperkirakan akan terus berlanjut selama lebih dari seribu tahun walaupun tingkat emisi gas rumah kaca telah stabil.[1] Ini mencerminkan besarnya kapasitas panas dari lautan.

Meningkatnya suhu global diperkirakan akan menyebabkan perubahan-perubahan yang lain seperti naiknya permukaan air laut, meningkatnya intensitas fenomena cuaca yang ekstrim,[2] serta perubahan jumlah dan pola presipitasi. Akibat-akibat pemanasan global yang lain adalah terpengaruhnya hasil pertanian, hilangnya gletser, dan punahnya berbagai jenis hewan.

Beberapa hal-hal yang masih diragukan para ilmuan adalah mengenai jumlah pemanasan yang diperkirakan akan terjadi di masa depan, dan bagaimana pemanasan serta perubahan-perubahan yang terjadi tersebut akan bervariasi dari satu daerah ke daerah yang lain. Hingga saat ini masih terjadi perdebatan politik dan publik di dunia mengenai apa, jika ada, tindakan yang harus dilakukan untuk mengurangi atau membalikkan pemanasan lebih lanjut atau untuk beradaptasi terhadap konsekwensi-konsekwensi yang ada. Sebagian besar pemerintahan negara-negara di dunia telah menandatangani dan meratifikasi Protokol Kyoto, yang mengarah pada pengurangan emisi gas-gas rumah kaca.

Pemanasan Global

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — angginiez @ 8:46 am

Amerika Serikat – Akses internet berkecepatan tinggi disinyalir bisa menolong bumi menghadapi pemanasan global yang makin meresahkan belakangan ini. Demikian disimpulkan oleh lembaga American Consumer Institute.

Dalam studi tersebut, gas rumah kaca sebagai biang pemanasan global bisa diminimalisir sekitar 1 miliar ton dalam satu dekade jika akses broadband internet makin tersebar luas. Amerika Serikat misalnya, akan menghemat sampai 11 persen impor minyak per-tahunnya berkat internet.

Bagaimana hal itu bisa terjadi? Berikut perinciannya:

  • Bekerja dari rumah via internet meminimalisir pemakaian kendaraan dan menghemat pemakaian ruang kerja. Langkah ini meminimalisir gas rumah kaca sampai 588 juta ton.
  • E-commerce atau perdagangan via internet menghemat pemakaian gudang pun juga memotong jalur distribusi/pengapalan. Langkah ini bisa meminimalisir gas rumah kaca sampai 206 juta ton.
  • Rapat-rapat yang berlangsung secara teleconference via internet bisa menghemat pemakaian pesawat terbang. Langkah ini meminimalisir gas rumah kaca sampai 200 juta ton.
  • Mengunduh (download) musik, film, dan koran via internet menghemat pemakaian kertas serta berbagai hal terkait seperti memotong jalur distribusi. Langkah ini meminimalisir gas rumah kaca sampai 67 juta ton.

Studi serupa yang dilakukan di Australia juga mengemukakan bahwa pemakaian internet bisa meminimalisir emisi karbon negeri itu sampai sejumlah 5 persen di tahun 2015.

Namun penelitian tersebut dianggap masih kurang lengkap. Bagaimana misalnya dengan emisi karbon yang dimuntahkan pabrik dalam produksi peralatan untuk pemakaian internet?

April 2, 2008

ABOUT TITANIC

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — angginiez @ 3:19 am

London Didn’t Know Financier was on the Olympic — Special Cable to THE NEW YORK TIMES — LONDON, Jan. 5—When the Olympic’s passengers reached London to-night some surprise was occasioned by learning that J. Pi

J. P. MORGAN SAILS; IS GOING TO EGYPT
No Worry in Washington, Where He Is to Testify Some Time About Steel and Money — NOT ON PASSENGER LIST — Lords Deceis [sic; should be "Decies"] and Camoys, with Their American Brides, Also on th
John P. Snyder, 71, Dies on Golf Course
John Pillsbury Snyder, 71, longtime Minneapolis automotive firm owner, died of a heart attack while playing golf Wednesday at Woodhill Country club. He owned and operated Snyder Garage, Inc., in Minneapolis for 43 years before retiring in

John Bourke – School Register Entry
John Bourke attended Rathkell School in Addergoole Parish. He was one of fourteen people from the parish who boarded RMS Titanic in Steerage

Mary Bourke – School Register Entry
Mary Bourke attended Rathkell School in the Parish of Addergoole. She was one of fourteen people from the parish who boarded RMS Titanic in Steerage

Letter from William J. Mellors to his mother – Southampton
April 10, 1912 Dear Mother, I am glad to say

Letter from William Mellors to his mother – Richmond County Club
New York Monday 22/4/12 c/o Mr. Hale Richmond County Club Dongan Hills Staten Island N.Y. Dear Mother, Just a line to let you know I am getting along much better.

TRAGEDY AT SEA – FILM RECORD OF THE TITANIC
The sinking of the Titanic has been dramatized on several occasions, and the subject has been examined from different aspects – as one of the greatest disasters in marine history, as an essay in human courage, as an event that symbolized the passi

Francis Davis Millet Gravestone
Francis Davis Millet Born at Mattapoisett, Massachusetts, on the 3rd of November 1846. And drowned in the loss of the ship “Titanic” on the

Husband of Helen Alice Wilson
  Axel Johannas Rosenquist was the husband of Helen Alice Wilson who survived the sinking of the Titanic, the following information gives brief details of how their lives continued after the disaste

12.45am – A Time to Go!
WHAT time did the first lifeboat depart the Titanic? Many will immediately offer: ‘12.45am.’ But this response shoul

   

KLON-KLON UNGGUL KOPI ROBUSTA

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — angginiez @ 2:45 am

KLON-KLON UNGGUL KOPI ROBUSTA

Salah satu penyebab rendahnya produktivitas kopi robusta Indonesia adalah masih belum digunakannya bahan tanam unggul sesuai kondisi lingkungan setempat. Kebiasaan menggunakan bahan tanam (benih) dari pohon yang berbuah lebat atau bahkan dari benih sapuan masih banyak dijumpai. Hal ini menyebabkan produktivitas rata-rata per tahun rendah sebagai akibat tanaman mengalami pembuahan lebat dua tahun sekali.
Salah satu upaya untuk meningkatkan produktivitas kopi robusta adalah dengan perbaikan bahan tanam. Penggantian bahan tanam anjuran dapat dilakukan secara bertahap, baik dengan metoda sambungan di lapangan pada tanaman kopi yang telah ada maupun penanaman baru dengan bahan tanaman asal stek. Adapun klon-klon kopi robusta yang dianjurkan adalah BP42, BP234, BP288, BP358, BP409 dan SA237, sedangkan enam klon lain yang baru saja dilepas adalah BP346, BP534, BP920, BP936, BP939 dan SA203. Mengingat kopi robusta bersifat menyerbuk silang, maka penanamannya harus poliklonal, 3 – 4 klon untuk setiap satuan hamparan kebun. Demikian pula sifat kopi robusta yang sering menunjukkan reaksi berbeda apabila ditanam pada kondisi lingkungan berbeda, maka komposisi klon kopi robusta untuk suatu kondisi lingkungan tertentu harus berdasarkan pada stabilitas daya hasil, kompatibilitas (keserempakan saat berbunga) antar klon untuk kondisi lingkungan tertentu, serta keseragaman ukuran biji. Adapun komposisi klon yang dapat dipilih untuk setiap tipe iklim dan ketinggian tempat tertentu diuraikan pada Tabel 1.

Tabel 1. Komposisi klon kopi robusta untuk setiap tipe
iklim dan tinggi tempat agar memberikan potensi produksi yang tinggi.
Iklim Tinggi Tempat > 400 m dpl < 400 m dpl
A atau B KLON BP42 : BP234 : BP358 : SA 237 = 1 : 1 : 1 : 1 KLON BP42 : BP234 : BP358 = 2 : 1 : 1
KLON BP436 : BP534 : BP920 : BP936 = 1 : 1 : 1 : 1
C atau D KLON BP42 : BP234 : BP490 = 2 : 1 : 1 KLON BP42 : BP234 : BP288 : BP409 = 1 : 1 : 1 : 1
KLON BP936 : BP939 : SA203 = 1 : 1 : 1 : 1

Untuk daerah Lampung klon yang dianjurkan adalah BP436, klon BP543, klon BP936 dan klon BP939 atau klon BP920.

BAHAN TANAM

a. Pemilihan komposisi klon berdasarkan kondisi lingkungan.
Untuk menyusun komposisi klon kopi robusta yang sesuai untuk setiap kondisi lingkungan diperlukan data tipe iklim (menurut klasifikasi Schmidt & Ferguson), serta tinggi tempat daerah penanaman. Ketinggian optimal yang dianjurkan untuk penanaman kopi robusta apabila dikaitkan dengan cita rasa adalah 500 – 700 m dpl. Komposisi yang dianjurkan untuk ketinggian tempat di atas atau dibawah 400 m dpl. Dengan tipe iklim A/B serta C/D tercantum dalam Tabel 1.


b. Sumber dan kebutuhan bahan tanam
Bahan tanaman klonal kopi harus berasal dari kebun entres resmi, yang dapat berupa entres maupun setek berakar. Untuk penanaman baru sebaiknya tidak menggunakan teknik penyambungan dengan batang bawah melainkan dengan setek berakar, kecuali untuk daerah-daerah bermasalah, misalnya pada daerah endemik nematoda. Hal ini mengingat penggunaan batang bawah mempunyai resiko terjadi kekeliruan klon, yaitu apabila yang tumbuh bukan klon atasnya.
Kebutuhan bahan tanaman berupa setek berakar, jumlah setek yang perlu disiapkan untuk setiap hektar perlu ditambah 20% dari jumlah populasi tanaman yang direncanakan. Populasi tanaman per hektar ditentukan oleh jarak tanam yang dipilih, seperti tertera dalam Tabel 2.


Tabel 2. Jarak tanam kopi robusta sesuai kemiringan
tanah dan kebutuhan bahan tanaman per
hektar.

Kemiringan tanah Jarak tanam
(m) Populasi Kebutuhan setek berakar
Landai (0-15%): 2,5 x 2,5 1.600 1.920
tanpa teras /teras 2,75 x 2,75 1.322 1.587
individu 2 x 3,5 1.428 1.714
2,5 x 3 1.333 1.600
2 x 2 x 4 1.660 1.990
2,5 x 2,5 x 3,5 1.333 1.600
Miring (>15%)
Teras bangku 2 x 2,5 2.000 2.400

TATA TANAM

Untuk lahan dengan kemiringan tanah kurang dari 15%, tiap klon ditanam dalam lajur yang sama, berseling dengan klon yang lain. Pergantian klon dengan yang lain klon mengikuti arah timur-barat. Apabila kemiringan tanah lebih dari 15% tiap klon diletakkan dalam satu teras, diatur dengan jarak tanam sesuai lebar teras. Hal ini mengantisipasi apabila, dikemudian hari dilakukan penyulaman, selain memudahkan penelusuran klon juga tidak mengubah imbangan komposisi klon (Gambar 1).

Gambar 1. Contoh tata tanam empat klon kopi robusta
yang ditata dengan jarak tanam pagar ganda
= 2,5 m x 2,5 m x 3,5 m.
Keterangan :
X ? jarak tanam 2,5 m
? ? jarak tanam 2,5 m
? ? jarak tanam 3,5 m


Hasanah
Tabel 3. Sifat-sifat agronomi penting klon-klon kopi robusta anjuran

Sifat Agronomi Klon
BP436 BP534 BP936 BP939
Bentuk daun dan warna daun Bulat telur ujung runcing melengkung kedudukan daun terhadap tangkai tega, daun berwarna hijau pucat (kekuningan), pupus hijau muda kemerahan Bulat meman-jang, lebar daun sempit, helai daun seperti belulang, sirip daun tegas, daun tua berwarna hijau, sering mosaik, pupus berwarna hijau kecoklatan Bulat telur, lebar meman-jang, ujung membulat tumpul agak lebar, pupus berwarna hijau coklat muda, daun tua hijau sedang, melung-kup ke bawah Oval bersirip tegas dan rapat, helaian daun kaku, tepi daun mengeru-puk, ujung daun tumpul berwarna hijau sedang, pupus hijau kecoklatan
Buah Buah muda ada diskus kecil, dompolan sangat rapat. >400 m dpl masak serempak berwarna merah anggur, < 400 m dpl masak tidak serempak Berukuran besar, buah muda kuning pucat beralur putih, diskus seperti cincin menonjol, dompolan buah rapat dan lebat Membulat mem-besar, permuka-an halus, buah muda hijau bersih, masak seragam, letak buah tersembu-nyi di balik cabang daun Dalam dompolan lebat dan rapat, jarak antara dompolan lebar, berukuran agak kecil berbentuk lonjong, permuka-an buah ada garis putih
Biji Biji kecil – sedang ukuran beragam Sedang – besar Sedang – besar Medium
Saat Pembungaan >400 m dpl berbunga akhir, <400 m dpl. Awal-akhir Agak akhir – akhir (masa panjang) Agak awal Akhir (lambat)
Produktivitas ( Kg kopi biji /Ha/Th) 1.600-2.800 1.000-2.800 1.800-2.800 1.600-2.800

PENGENALAN JEPANG

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — angginiez @ 2:36 am

Jepang adalah Negara yang terbentang membentuk busur pada arah Barat Laut Samudra Pasifik di tepi Timur Benua Eurasia. Terdiri dari pulau – pulau besar dan kecil dengan luas sekitar 378.000 km2 membentang dari Selatan ke Utara sepanjang 2.500 km dan terletak pada sekitar 20° – 46° LU. Pulau – pulau utamanya adalah Hokkaido, Honshu, Shikoku, Kyushu, dan Okinawa.Honshu terbagi dalam 5 daerah, yaitu Tohoku, Kanto, Chubu, Kinki dan Chugoku. Sekitar tiga perempat dari daratan Japang terdiri dari daerah pegunungan dan perbukitan, sedangkan tanah datar yang tersedia untuk lahan dan pengembangan kota sangat terbatas. Di daerah yang terbatas inilah tinggal lebih kurang 130 juta penduduk.

Iklim umumnya lembut dengan perubahan 4 musim yang jelas karena Jepang terletak hampir di pusat daerah beriklim sedang. Musim semi dan musim gugur sangat nyaman namun pada musim panas ( Juli – Agustus) angina bertiup dari Samudera Pasifik sehingga menjadikan Jepang panas, sebaliknya pada musim dingin (Desember – Februari) angin bertiup dari daratan menjadikan Jepang sangat dingin. Kecuali kepulauan Hokkaido, pada bulan Juni berlangsung Tsuyu ( musim hujan) dan hampir setiap hari turun hujan. Disamping itu, karena kepulauan Jepang memiliki struktur daratan yang rumit dan memanjang dari Selatan ke Utara, adanya perbedaan iklim yang mencolok antar daerah merupakan kekhasan tersendiri. Di Hokkaido dan Honshu sekitar Laut Jepang, pada musim dingin curah saljunya tinggi. Dengan memanfaatkan perubahan musim seperti ini berbagai macam olah raga pantai dan olah raga musim dingin bisa dinikmati dengan menyenangkan.

Perihal makanan tidak hanya masakan Jepang yang terdiri dari nasi, sebagai makanan pokok, serta sayuran, ikan, dan daging saja sebagai lauk pauknya, masakan Cina dan Eropa pun cukup popular. Dewasa ini bermacam – macam jenis masakan dari berbagai penjuru dunia bisa dinikmati. Jepang jug dikarunia air yang bermutu dan fasilitas higiennya sangat baik sehingga air keran di semua daerah aman di konsumsi.

Kebudayaan Jepang dewasa ini sangat beragam. Para remaja putri yang mempelajari kebudayaan tradisional Jepang seperti upacara minum teh (chadou) dan merangkai bunga (kadou) sekalipun senang pergi menonton pertandingan olah raga. Begitu pula di kota – kota, bukanlah pemandangan yang mengherankan manakala terlihat kuil – kuil kuno tegak berdampingan dengan gedung – gedung pencakar langit. Inilah kebudayaan Jepang dewasa ini sebagai gabungan yang mengagumkan antara Kebudayaan lama dan kuno, antara Timur dan Barat.

Seiring dengan kemajuan media informasi, informasi dengan mudah mengalir masuk dan hal – hal baru pun dengan cepat tersebar luas di Jepang. Namun kebudayaan tradisional seperti festival tradisional dan gaya hidup yang sudah berurat berakar di setiap daerah masih tetap melekat sebagai ciri khas daerah ybs, sepeti halnya dialek daerah. Demikian pula dengan industrinya. Jepang yang dulu dikenal sebagai Negara agraris, hanya dengan melalui proses industrialisasi cepat selama 1 abad, kini telah menjelma sebagai salah satu Negara industri maju di dunia. Berbagai penelitian dalam berbagai bidang, mulai dari rekayasaa elektronik sampai manajemen internasional dsb, bisa dilakukan di berbagai Universitas.

Tidakkah anda tertarik untuk belajar di ‘JEPANG’, sebuah Negara dengan perpaduan harmonis antara Kebudayaan tradisional kuno dan Kemajuan ilmu pengetahuan-Teknologi yang mengagumkan?

COFFE EXPERT

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — angginiez @ 2:26 am

Just as wine, coffee is composed of a huge variety of palates and aromas. Real coffee experts use all their senses to judge and describe coffee, starting with sniffing the coffee to define the aroma, then looking at it to describe the appearance, and finally tasting it to feel and enjoy the great coffee taste.

Become a Coffee Expert

Coffee tasting is simply a process of comparing and contrasting different coffees. If you taste two or three coffees you can develop your personal preference as well as distinguish differences in aroma, acidity, and flavour. We recommend you start with the lighter bodied coffees first and work up to fuller bodied coffees. Let’s get started and become a coffee expert!

What do I need?

Fresh filtered water: The quality of water you use – in terms of the amount of mineral salts and chlorine it contains – can greatly affect the taste of coffee. For best results, try using purified water when making your next cup of coffee.
If using tap water, let the tap run for a while before filling the kettle, particularly in the morning. This clears out water which has stood overnight in the pipes. Bring the water to the boil, but don’t boil it for too long, as this removes oxygen and makes a flatter cup of coffee.
Balance: Measure  the amount of coffee exactly (use as much as coffee as indicated on the packaging).
Several coffee mugs or bowls: To serve your coffee.
Cupping Spoons: Use deep-bowled spoons, better for sipping and cooling samples.
Paper: To note your impressions
Coffee powder: Choose your favorite NESCAFÉ products.

What to do?

First of all look at your coffee…or in other words, describe the appearance and the colour intensity of the powder from light to dark before pouring the hot water over it. While pouring the water over your coffee, keep watching the solubility. Your coffee should dissolve easily.

Then use your nose to smell the overall aroma. The aroma is the first hint of how your coffee will taste. Use your spoon to gently ‘break the crust’ of the surface, allowing the aromas to escape. Glide the spoon back and forth, and inhale deeply. Smell each coffee sample and note down your impressions.

And last but not least, taste it: Sip the coffee from the spoon with a deep pull. Let the coffee cover your entire mouth, allowing your taste buds to experience and recognize each flavour and specific note. Keep the coffee in your mouth without swallowing and swish it about. What does the coffee feel like? There are several components to describe the taste of your coffee:
Overall Intensity…is the total intensity of flavours perceived together in the cup. The rating goes from very strong (meaning a very intense coffee) to very light.
Coffee strength…What do you think of the coffee strength of this drink? The rating goes from very strong (meaning a very strong coffee taste) to very light.
Mouthfeel..How does this drink feel in your mouth?
Acidity…is the basic taste of acidity. It is a sharp and pleasing taste, as opposed to sour. It is perceived as a ‘tingling’ sensation on each side of the tongue.
Bitterness…Bitterness is a natural part of the coffee’s taste, partly due to the caffeine content. Therefore good quality coffee will commonly have some bitter elements, but they should live in harmony with other aspects. Bitterness refers to the basic taste sensation perceived primarily at the back of the tongue; it might remind you of the taste of a grapefruit.
Body…describes the apparent viscosity, the fullness and the weight in the mouth ranging from thin – almost watery -  to thick and heavy.
Aftertaste…Does the coffee has a pleasant aftertaste?

Cupping is not hard to do, but takes training, practice, and patience. It is a fun way to reward yourself, and allows you to experience a journey that will give you invaluable knowledge as you improve your coffee skills.

Maret 31, 2008

origins

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — angginiez @ 9:53 am

No real evidence exists to show exactly when or how coffee was first discovered. While there are many legends about it, traces of its cultivation go back very far back in time… some say coffee was being drunk as far back as 900BC.

Coffee legends

Many colourful legends surround the origins of coffee cultivation. Some believe that coffee as we know it was first discovered in the 3rd century, when an Ethiopian goat keeper called Kaldi noticed his herd behaving like young kids after eating some stimulating red coffee berries! The goat keeper shared his discovery with the abbot of a nearby monastery, who decided to test the power of the berry himself.

He poured boiling water onto the berries he had collected and made a drink which he found helped him to stay awake during long hours of prayer. While many other legends deal with the origins of coffee, its actual discovery remains a mystery – which is hardly surprising, given that coffee’s known history dates back thousands of years.

Arabic origins

Legends aside, we know for a fact that the first commercial cultivation was reported in Arabia in the 15th century. For a long time, trade in the precious commodity was jealously guarded, with Arab farmers making every effort to stop other countries acquiring their precious beans. Over time, however, seed-beans and plant cuttings found their way to Aden, Egypt, Syria and Turkey, where coffee became known as the ‘wine of Araby.’

From Arabia to the world

Before long, public coffee houses were open in every city in the Near East. Soon, the first shipment of coffee beans arrived in Europe and coffee’s popularity spread like wildfire. By the end of the 17th century, coffee houses plied their busy trade across Austria, France, Germany, Holland and Britain.

The Dutch began to grow coffee in the Far East, and Britain and France followed suit, introducing coffee to their colonies. In America, coffee grew in popularity after the famous Boston Tea Party, when people revolted against the high tax King George placed on tea.

In the 18th century, missionaries, traders and colonists took coffee to Central and South America. The natural environment proved ideal for cultivating coffee, and coffee growing spread rapidly. By the late 1800s coffee had become one of the world’s major export crops, especially in developing countries.

Coffee today

Today, coffee is one of the world’s largest trading commodities – second only to oil. It is worth more than $12 billion dollars in trade every year, mainly between developing countries, where it is grown, and industrialized countries, where it is consumed.
The price of coffee remains highly volatile. Being an agricultural commodity, coffee suffers from sharp variations in supply as a result of changes in environmental conditions. Most of the world’s coffee crop is produced in Southern and Central America, Asia and Africa.

Coffee is the 2nd most consumed beverage worldwide, after water The United States is the biggest importer of coffee, taking around a sixth of the world’s yearly crop. However, the nation that consumes the most per capita is Finland, with the average Finn drinking around 1400 cups each year!

The modern world is full of coffee moments….. Coffee wakes us up, perks us up and brings a clarity to our senses. It gets us moving and ready to face the tasks ahead. Coffee can be a break, a chance to relax and reflect, or to share a moment together.

COFFE STYLISH

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — angginiez @ 9:49 am

There are so many ways to enjoy coffee! Everyone has their particular preference in creating the most universal drink. Today the worldwide trends are milky and frothy cappuccinos with a lot of delicious foam. Below are the best-known coffees drunk all over the world… how many of them have you tried at home asNESCAFÉ products? Which of them is your favourite?

The Universal drink

Espresso

‘Espresso’ is Italian for ‘express’ or ‘fast’.
Espresso is reputed to be the base of all great coffees. Although the praise for the investion of this style of coffee goes to the Italians, the first espresso machine was actually developed in France. It was a rather crude attempt, however, and it was the Italians who developed it into the machine that we know today. An espresso machine uses pressure to force hot water through finely ground coffee. The Italians serve espresso in a ‘demitasse’ (meaning half-cup), containing 1 1/2 ounces of rich, dark, coffee with a golden crema (or foam) on top. Superb for those who like an intense coffee experience.
Preparation with NESCAFÉ: Enjoy an authentic espresso experience using NESCAFÉ Espresso.

Cappuccino

A frothy mixture of espresso and steamed milk in equal measure.
Preparation with NESCAFÉ: NESCAFÉ makes a delicious range of cappuccinos with thick foam and rich aroma you can enjoy at home and everywhere you want!
 

Café au lait / Café Latte

Espresso with steamed milk and a dollop of frothed milk on top (more milky than a cappuccino).
Preparation with NESCAFÉ: For a delicious Café Latte at home, just mix NESCAFÉ Classic or Gold directly with hot milk!

Latte Macchiato

A glass filled with hot frothed milk, into which a serving of espresso has been slowly dribbled. The espresso is poured into the milk and froth, creating a layered effect as viewed through the serving glass. Latte macchiato is a delightful confection!
Preparation with NESCAFÉ: Make a NESCAFÉ Espresso and allow it slowly to dribble into a cup of hot milk, spoon some milk foam over your coffee and enjoy! Or, try the NESCAFÉ speciality, NESCAFÉ Latte Macchiato.

Americano

Espresso with hot water added.
Preparation with NESCAFÉ: Fill a mug of hot water and add 2 spoons of Nescafé – this is what is popularly known as a cup of black coffee.

Corretto

Espresso spiked with spirit, e.g. Grappa or Cognac.
Preparation with NESCAFÉ: Just use NESCAFÉ Espresso again, and add the sprit of your choice for an after dinner treat. 

Ristretto

Double-strength espresso.
Preparation with NESCAFÉ: Just add another spoonful of Nescafé Espresso, and your Ristretto is ready.

Romano

Espresso served with a slice of lemon.
Preparation with NESCAFÉ: NESCAFÉ Espresso and a slice of lemon…

Con Panna

Espresso topped with a dollop of whipped cream.
Preparation with NESCAFÉ: NESCAFÉ Espresso and whipped cream…

Granita de Caffé

Cold espresso poured over crushed ice.
Preparation with NESCAFÉ: Make a NESCAFÉ Espresso with hot water, let it cool down and pour it over crushed ice.

Mocha

One-third espresso, one-third hot chocolate, and one-third steamed milk.
Preparation with NESCAFÉ: NESCAFÉ Espresso, some drinking chocolate and hot milk.

Frappé

Cold coffee, shaken with iced cubes.
Preparation with NESCAFÉ: Mix 2 g NESCAFÉ Classic and 4 g sugar with cold water and ice -  enjoy!

COFFE EXPERT

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — angginiez @ 9:44 am

Just as wine, coffee is composed of a huge variety of palates and aromas. Real coffee experts use all their senses to judge and describe coffee, starting with sniffing the coffee to define the aroma, then looking at it to describe the appearance, and finally tasting it to feel and enjoy the great coffee taste.

Become a Coffee Expert

Coffee tasting is simply a process of comparing and contrasting different coffees. If you taste two or three coffees you can develop your personal preference as well as distinguish differences in aroma, acidity, and flavour. We recommend you start with the lighter bodied coffees first and work up to fuller bodied coffees. Let’s get started and become a coffee expert!

What do I need?

Fresh filtered water: The quality of water you use – in terms of the amount of mineral salts and chlorine it contains – can greatly affect the taste of coffee. For best results, try using purified water when making your next cup of coffee.
If using tap water, let the tap run for a while before filling the kettle, particularly in the morning. This clears out water which has stood overnight in the pipes. Bring the water to the boil, but don’t boil it for too long, as this removes oxygen and makes a flatter cup of coffee.
Balance: Measure  the amount of coffee exactly (use as much as coffee as indicated on the packaging).
Several coffee mugs or bowls: To serve your coffee.
Cupping Spoons: Use deep-bowled spoons, better for sipping and cooling samples.
Paper: To note your impressions
Coffee powder: Choose your favorite NESCAFÉ products.

What to do?

First of all look at your coffee…or in other words, describe the appearance and the colour intensity of the powder from light to dark before pouring the hot water over it. While pouring the water over your coffee, keep watching the solubility. Your coffee should dissolve easily.

Then use your nose to smell the overall aroma. The aroma is the first hint of how your coffee will taste. Use your spoon to gently ‘break the crust’ of the surface, allowing the aromas to escape. Glide the spoon back and forth, and inhale deeply. Smell each coffee sample and note down your impressions.

And last but not least, taste it: Sip the coffee from the spoon with a deep pull. Let the coffee cover your entire mouth, allowing your taste buds to experience and recognize each flavour and specific note. Keep the coffee in your mouth without swallowing and swish it about. What does the coffee feel like? There are several components to describe the taste of your coffee:
Overall Intensity…is the total intensity of flavours perceived together in the cup. The rating goes from very strong (meaning a very intense coffee) to very light.
Coffee strength…What do you think of the coffee strength of this drink? The rating goes from very strong (meaning a very strong coffee taste) to very light.
Mouthfeel..How does this drink feel in your mouth?
Acidity…is the basic taste of acidity. It is a sharp and pleasing taste, as opposed to sour. It is perceived as a ‘tingling’ sensation on each side of the tongue.
Bitterness…Bitterness is a natural part of the coffee’s taste, partly due to the caffeine content. Therefore good quality coffee will commonly have some bitter elements, but they should live in harmony with other aspects. Bitterness refers to the basic taste sensation perceived primarily at the back of the tongue; it might remind you of the taste of a grapefruit.
Body…describes the apparent viscosity, the fullness and the weight in the mouth ranging from thin – almost watery -  to thick and heavy.
Aftertaste…Does the coffee has a pleasant aftertaste?

Cupping is not hard to do, but takes training, practice, and patience. It is a fun way to reward yourself, and allows you to experience a journey that will give you invaluable knowledge as you improve your coffee skills.

Tulisan yang Lebih Tua »

Blog pada WordPress.com.